Berita

18

Jan

KERETA CEPAT DAN ARAH BARU EKONOMI INKLUSIF INDONESIA

KERETA CEPAT DAN ARAH BARU EKONOMI INKLUSIF INDONESIA

 

Oleh: Dr. Budi Rianto, Drs. M.Si

Kontak: budi.rianto@hangtuah.ac.id

Hp.: 081234554710

(Dosen Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Hang Tuah Surabaya)

Polemik Kereta cepat Jakarta–Bandung “Whoosh” dengan biaya yang mahal patut di duga kurang efisien dan mal administrasi sehingga perlu adanya audit forensic untuk mencari kebenarannya secara obyektif tanpa menuduh siapa di balik kasus tersebut. Namun demikian sebagai moda transportasi massal, kasus ini akan menjadi proses dialektika yang berkepanjangan karena proses panjang pelunasan hutang dan transformasi teknologi canggih, tak akan selesai dalam waktu singkat.  Walau di sisi lain akan  menjadi tonggak sejarah baru transportasi massal Indonesia di masa yang akan datang baik untuk Pulau Jawa Sendiri, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan dan Pulau Irian Jaya yang sangat luas dan perlu jangkauan secara cepat di tengah revolusi Industri yang kehadirannya takkan terelakkan di masa yang  akan datang. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa cepat kita melaju, melainkan apakah kemajuan ini benar-benar menghadirkan manfaat ekonomi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ketika kereta cepat Jakarta–Bandung “Whoosh” resmi beroperasi, Indonesia memasuki babak baru dalam sejarah transportasi nasional. Proyek senilai sekitar 7,3 miliar dolar Amerika Serikat ini bukan sekadar capaian teknologi, melainkan juga cermin bagaimana sebuah infrastruktur besar transportasi massal dapat  atau gagal dalam  menciptakan manfaat ekonomi yang benar-benar inklusif, bagi percepatan ekonomi masyarakat secara luas. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kereta cepat bisa mempercepat perjalanan, melainkan apakah ia mampu mempercepat pemerataan kesejahteraan di lingkungan Jakarta Bandung sebagai uji coba pilot project transportasi massal tersebut.

 

Kereta WHOOSH Apakah Lebih Dari Sekadar Kecepatan Perjalanan.

Perjalanan Jakarta–Bandung yang sebelumnya memakan waktu hampir tiga jam, kini dapat ditempuh hanya dalam sekitar 40 menit. Penghematan waktu lebih dari dua jam per penumpang merupakan nilai ekonomi yang nyata, dalam perspektif waktu adalah uang. Jika diasumsikan nilai waktu pekerja urban sekitar Rp20.000–Rp40.000 per jam, maka setiap penumpang menghemat Rp50.000–Rp100.000 per perjalanan. Dengan rata-rata sekitar 18.000 penumpang per hari, manfaat ekonomi dari waktu yang dihemat mencapai Rp300–600 miliar per tahun.

Namun manfaat kereta cepat tidak hanya diukur dari kecepatan perjalanan manusia seperti pesawat, namun juga logistic yang lebih masif dari pada pesawat terbang dan mungkin juga kapal laut. Waktu yang dihemat menciptakan peluang produktif baru: pelaku usaha kecil dapat bertransaksi di dua kota dalam satu hari, pekerja profesional dapat memperluas jejaring kerja lintas wilayah, dan kota-kota satelit seperti Purwakarta atau Padalarang berpotensi tumbuh menjadi simpul kegiatan ekonomi baru. Dengan kata lain, mobilitas yang efisien membuka mobilitas ekonomi.

 

Efek Berantai Pengembangan Kereta Cepat Terhadap Daerah

Selama masa konstruksi, proyek ini menciptakan sekitar 40.000 hingga 70.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung. Industri pendukung seperti logistik, bahan bangunan, dan jasa konsumsi ikut bergerak. Namun, dampak paling strategis justru muncul setelah proyek beroperasi: kawasan di sekitar stasiun menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.

Pemerintah dan operator telah merencanakan pengembangan transit-oriented development (TOD) di sekitar Halim, Walini, dan Tegalluar. Konsep ini dapat membuka ruang bagi usaha kecil, mulai dari kafe sederhana hingga penginapan rakyat. Jika dikelola dengan kebijakan inklusif mengingat kereta adalah transportasi massal, maka kawasan stasiun dapat menjadi ekosistem ekonomi yang menampung pekerja informal dan pelaku UMKM, bukan sekadar pusat perkantoran dan hunian eksklusif untuk elit penumpang kereta cepat yang tentu biayanya lebih mahal dari kereta lain pada umumnya namun masih lebih murah dari pada transportasi pesawat terbang yang lebih elitis.

Kenaikan nilai tanah di sekitar jalur dan stasiun juga berpotensi besar, dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi di jalur baru. Melalui mekanisme land value capture, sebagian dari kenaikan nilai tanah dapat dikembalikan untuk membiayai fasilitas publik, seperti hunian terjangkau, ruang usaha mikro, atau transportasi feeder. Dengan cara itu, keuntungan pembangunan tidak hanya mengalir ke investor properti, tetapi juga ke masyarakat sekitar.

Kontribusi terhadap pertumbuhan nasional

Dari sisi makroekonomi, investasi senilai Rp117 triliun (setara US$7,3 miliar) memiliki potensi multiplier efek antara 1 hingga 1,5 kali terhadap produk domestik bruto (PDB). Artinya, proyek ini dapat menambah sekitar Rp117–175 triliun terhadap PDB nasional dalam jangka menengah.

Selain itu, dengan rata-rata 6,5 juta perjalanan penumpang per tahun dan tarif sekitar Rp300.000, pendapatan tiket kotor mencapai hampir Rp2 triliun per tahun. Meski angka tersebut belum memperhitungkan biaya operasional dan perawatan, kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi jasa, pariwisata, dan konsumsi di dua kota besar tidak dapat diabaikan.

Namun, manfaat ekonomi sebesar itu hanya berarti jika didistribusikan secara merata, melalui colaboratif governance, antara pemerintah, operator, NGO dan UKM yang  perlu memastikan bahwa rantai pasok proyek, tenaga kerja, dan pelaku ekonomi lokal ikut memperoleh porsi manfaat. Program pelatihan teknis, sertifikasi tenaga kerja, dan kemitraan antara BUMN dengan UKM lokal harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Keberlanjutan  Menuju konektivitas lintas-Jawa sebelum ke Pulau Lainnya

Rencana perpanjangan jalur kereta cepat hingga Surabaya merupakan proyek ambisius berikutnya. Panjang lintasan sekitar 750 kilometer diperkirakan membutuhkan biaya US$38–40 miliar. Secara ekonomi, potensi dampaknya luar biasa: konektivitas antara Jakarta, Cirebon (Jawa Barat Bagian Timur), Tegal/Brebes (Jawa Tengah bagian barat),  Pekalongan/Batang,   Semarang (Ibu kota Jawa Tengah), Solo/Yogyakarta sebagai Corridor, Madiun  (INK servis Perbaikan atupun Pengembangan teknologi Industri Kereta Cepat) Corridor dan Surabaya (Ibu Kota Jatim dan pelabuhan utama nasional), serta Malang (Kota Terminus Kereta Cepat) yang   akan memperpendek jarak ekonomi dan membuka integrasi pasar tenaga kerja di Pulau Jawa.

Dengan multiplier ekonomi yang sama, proyek ini berpotensi menambah  lebih dari Rp600–900 triliun terhadap PDB nasional dalam jangka menengah. Namun, besarnya potensi tersebut sebanding dengan risiko fiskal yang harus dikelola. Pembiayaan perlu mengandalkan kombinasi sumber dana antara swasta, pemerintah, dan skema land value capture yang komprehensif,  agar tidak menambah beban utang negara harus menjadi bagian terintegrasi yang melibatkan semua pihak sebagaimana pendapat Emerson, Nabatchi & Balogh (2012) baik, Principled engagement, Shared motivation maupun  Capacity for joint action, dalam perspektif Collaborative Governance sistem tata kelola pemerintahan di masa depan.

Dan yang lebih penting lagi, proyek sebesar ini harus dirancang dengan prinsip ekonomi inklusif: memastikan akses tarif yang terjangkau bagi masyarakat kelas pekerja, membuka peluang kerja lokal di sepanjang jalur lintasan, serta mengintegrasikan moda transportasi pengumpan di kota-kota menengah seperti tersebut di atas, ataupun di kota-kota lain tempat setasiun kereta tersebut dibangun sebagai pusat kawasan ekonomi baru pengembangan inklusif kereta api cepat tersebut.


We strive for progress with no one left behind

Kereta cepat adalah simbol kemajuan. Namun kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita bergerak, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang ikut bergerak bersama dengan percepatan laju transportasi massal kereta cepat tersebut.

Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan model collaborative governance  sebagai pelengkap yang menjamin inklusivitas manfaat proyek ini. Pertama, menetapkan konten lokal minimal 40–50 persen untuk material dan jasa penunjang proyek. Kedua, menyelenggarakan program pelatihan vokasional bagi generasi muda agar terserap di sektor perkeretaapian modern. Ketiga, menetapkan skema tarif progresif yang tetap membuka akses bagi pelajar dan pekerja berpenghasilan menengah ke bawah. Dan keempat, mengembangkan transportasi feeder dan konektivitas antarmoda di setiap kota persinggahan.

Jika kebijakan tersebut dijalankan secara konsisten, maka pembangunan kereta cepat bukan hanya pencapaian teknologis, melainkan juga instrumen pemerataan ekonomi. “Whoosh” tidak hanya menjadi kereta tercepat di Asia Tenggara yang pertama oleh negara terbesar di Asia Tenggara, akan  tetapi juga simbol bagaimana Indonesia mampu melaju tanpa meninggalkan siapa pun di belakang yakni  Leave no one behind for Sustainable Development Goals dalam menyongsong Indonesia emas 1945 yang akan datang.

 

Dr. Budi Rianto, Drs. M.Si adalah pengamat Administrasi dan Ekonomi pembangunan dari Universitas Hang Tuah Surabaya.